Minggu, 20 Maret 2011

PENDIDIKAN ISLAM


DIALEKTIKA AGAMA DAN SAINS
(Upaya Pemahaman Integratif dan Implikasinya
Dalam Konteks Pendidikan Islam)
Oleh : Ali Muttaqin, M.Pd.I
(Dosen STAI Bahrul Ulum Tambakberas Jombang)
Abstrak
Dialektika agama dan sains telah berlangsung sejak lama dan selalu menarik perhatian kaum intelektual. Pertarungan di antara keduanya seolah-olah tak pernah berhenti sepanjang sejarah perkembangan keduanya. Di satu pihak, kaum skeptis ilmiah menuduh bahwa agama hanya bergantung pada asumsi-asumsi apriori atau hanya didasarkan pada keyakinan, sementara para scientist senantiasa berdasarkan fakta secara empiris. Di pihak lain, para agamawan (teolog) mengklaim dan menyebut dirinya sebagai kaum yang berhak berbicara semua hal tentang kebenaran. Sebagian masyarakat pun menganggap bahwa agama dan sains adalah dua entitas yang tidak dapat dipertemukan. Masing-masing memiliki wilayah sendiri-sendiri secara terpisah, baik dari segi objek, metode penelitian dan kriteria kebenaran. Agama dan sains, merupakan dua entitas penting dalam kehidupan umat manusia. Pertentangan antara keduanya tak perlu terjadi jika kita mau belajar mempertemukan ide-ide spiritualitas (agama) dengan sains. Ian G. Barbour menganggap keliru apabila melanggengkan dilema tentang keharusan memilih antara sains dan agama. Hal ini disebabkan oleh cara pandang yang keliru terhadap hakikat keduanya. Sains dan agama mempengaruhi manusia dengan kemuliaan Sang Pencipta dan mempengaruhi perhatian manusia secara langsung pada kemegahan alam fisik ciptaan-Nya. Keduanya tidak saling bertolak belakang, karena keduanya merupakan ungkapan kebenaran. Dalam Islam, sains dan agama memiliki dasar metafisik yang sama, dan tujuan pengetahuan yang diwahyukan maupun pengetahuan yang diupayakan adalah mengungkapkan ayat-ayat Tuhan dan sifat-sifat-Nya kepada umat manusia. Kegiatan ilmiah adalah sebagai bagian dari kewajiban agama, dengan catatan bahwa ia memiliki metodologi dan bahasanya sendiri.
Persoalan mendasar yang dipecahkan dalam makalah ini adalah bagaiamana hakikat agama dan sains ? Bagaiamana relasi antara keduanya, terutama dalam perspektif Islam ? dan Bagaimana implikasinya dalam konteks pendidikan Islam ?

A.  Pendahuluan
Dialektika agama dan sains bukan merupakan isu baru dan selalu menarik perhatian di kalangan intelektual. Banyak pemikir yang menyatakan bahwa agama tidak akan pernah dapat didamaikan dengan sains.[1] Hingga kini, masih ada anggapan dari sebagian masyarakat bahwa sains dan agama adalah dua entitas yang tidak dapat dipertemukan. Keduanya mempunyai wilayah masing-masing, terpisah antara satu dan lainnya, baik dari segi objek formal-material, metode penelitian, kriteria kebenaran, peran yang dimainkan oleh ilmuwan. Dengan ungkapan lain, ilmu tidak memperdulikan agama dan agama pun tidak memperdulikan ilmu.[2]
Pertarungan antara sains dan agama seolah-olah tak pernah berhenti. Di satu pihak ada kelompok saintis yang tak pernah dianggap sebagai intelektual, tetapi kerjanya yang berpijak pada dunia empiris secara nyata telah mengubah dunia seperti yang kita lihat sekarang ini. Sementara di sisi lain, para agamawan mengklaim dan menyebut dirinya sebagai kaum yang berhak berbicara semua hal tentang kebenaran. Kedua kelompok tersebut seolah-olah tak pernah berhenti untuk saling klaim bahwa merekalah yang berhak menentukan kehidupan.[3]
Pihak skeptis ilmiah selalu menuduh bahwa agama hanya bergantung pada asumsi-asumsi apriori atau sesuatu yang hanya didasarkan pada keyakinan. Selain itu, kelompok sains juga tidak dapat menerima begitu saja segala sesuatu sebagai kebenaran. Kaum teolog (agamawan) kemudian banyak menuai kritik karena terlalu bertumpu pada imajinasi liar, sementara para scientist harus berdasarkan fakta secara empiris. Ini adalah tantangan yang dihadapi dan apabila pemahaman yang kurang tepat mengenai persoalan ini dapat menjebak umat beragama pada upaya-upaya yang tak produktif atau bahkan kontra produktif.[4]
Kasus eksekusi Gereja atas Galileo Galilei pada abad ke 15 M karena pemikirannya tentang matahari sebagai pusat tata surya bertentangan dengan keyakinan gereja bahwa bumi adalah pusat alam semesta. Pemikirannya ini menyebabkan Dinas Suci Inkuisisi Gereja Katolik mengucilkannya. Otoritas tertinggi Gereja Katolik bahkan ingin menghapuskannya dari sejarah perkembangan ilmu pengetahuan manusia. Hal ini terjadi karena ilmuwan dan penulis sastra ini menyuarakan sebuah pandangan yang waktu itu dianggap sebagai sebuah kekafiran besar yang akan merusak akidah umat.[5] Di samping itu, penolaan gereja Katolik terhadap teori evolosi Darwin pada abad ke-19 menjadi bukti nyata betapa konflik yang saling menegasikan telah mewarnai hubungan antara agama dan sains.[6]
Pertentangan antara kaum agamawan dan ilmuwan di Eropa ini disebabkan oleh sikap radikal kaum agamawan Kristen yang hanya mengakui kebenaran dan kesucian Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, sehingga siapa saja yang mengingkarinya dianggap kafir dan berhak mendapatkan hukuman. Di lain pihak, para ilmuwan mengadakan penyelidikan-penyelidikan ilmiah yang hasilnya bertentangan dengan kepercayaan yang dianut oleh pihak gereja (kaum agamawan). Akibatnya, tidak sedikit ilmuwan yang menjadi korban dari hasil penemuan mereka oleh penindasan dan kekejaman dari pihak gereja.[7]
Agama dan sains, merupakan dua bagian penting dalam kehidupan sejarah umat manusia. Bahkan pertentangan antara keduanya tak perlu terjadi jika kita mau belajar mempertemukan ide-ide spiritualitas (agama) dengan sains yang sebenarnya sudah berlangsung lama. Kerinduan akan tersintesisnya agama dan sains pernah diurai Charles Percy Snow, dalam Ceramahnya di Universitas Cambridge yang dibukukan dengan judul The Two Cultures yang menyorot kesenjangan antar budaya, yaitu antara kelompok agamawan yang mewakili budaya literer dan kelompok saintis yang mewakili budaya ilmiah.[8]
Ian G. Barbour menanggapi hal ini dengan argumen bahwa mereka keliru apabila melanggengkan dilema tentang keharusan memilih antara sains dan agama. Kepercayaan agama menawarkan kerangka makna yang lebih luas dalam kehidupan. Sedangkan sains tidak dapat mengungkap rentang yang luas dari pengalaman manusia atau mengartikulasikan kemungkinan-kemungkinan bagi tranformasi hidup manusia sebagaimana yang dipersaksikan oleh agama.[9] Pertentangan yang terjadi di dunia Barat sejak abad lalu sesungguhnya disebabkan oleh cara pandang yang keliru terhadap hakikat sains dan agama. Sains dan agama mempengaruhi manusia dengan kemuliaan Sang Pencipta dan mempengaruhi perhatian manusia secara langsung pada kemegahan alam fisik ciptaan-Nya. Keduanya tidak saling bertolak belakang, karena keduanya merupakan ungkapan kebenaran.[10]
Dari paparan di atas, persoalan mendasar yang muncul adalah bagaiamana hakikat agama dan sains ? Bagaiamana relasi antara keduanya, terutama dalam perspektif Islam ? dan Bagaimana implikasinya dalam konteks pendidikan Islam ? Makalah ini berusaha memecahkan ketiga permasalahan tersebut secara analitis dengan pisau analitis filosofis.
B.  Hakikat Agama dan Sains
Agama dan sains dalam pembahasan ini didekati dalam perspektif ontologis, epistimologis dan aksiologis.
1.    Pendekatan Ontologis
Secara ontologis, “agama” berasal dari kata religion (Inggris), religere (Belanda) dan dîn (Islam), secara etimologis diartikan sebagai keselarasan, tidak kacau dan tatanan terhadap sesuatu, secara ontologis hakekat agama berarti sesuatu tidak nampak atau yang abstrak. Bila makna agama ditangkap dari aspek yang nampak, ia akan berwujud sebagai simbul ritual yang dilakukan oleh umat beragama. Misalnya, dalam peristiwa Asyura, agama merupakan inspirasi revolusioner, perjalanan spiritual dan upaya mencapai tingkat kesadaran tertinggi. Begitu pula pada seremonial Ngaben, agama berarti sebagai ikatan pada kekuatan supranatural secara turun temurun. Dengan demikian, dalam perspektif panampakan agama ini, makna agama berarti mulai dari ajaran akhlak hingga ideologi gerakan, sejak perjalanan spiritual hingga tindakan kekerasan masal, dan sejak ritus khidmat hingga ceramah demagog yang menyesakkan.[11] Sementara itu, makna abstrak agama dapat difahami dari sisi konseptual, seperti dalam perspektif teologis agama diartikan sebagai kepercayaan terhadap Tuhan yang selalu hidup, yaitu kepada Jiwa dan kehendak Ilahi, yang mengatur alam semesta dan mempunyai hubungan moral dengan umat manusia.[12]
Disisi lain, sains yang secara etimologis berasal dari scire (Latin), berarti mengetahui, keadaan atau fakta mengetahui atau pengetahuan (knowledge) yang dikontraskan dengan intuisi atau kepercayaan.[13]  Secara ontologis, sains seperti ditulis Kertanegara merupakan pengetahuan sistematis yang berasal dari observasi, kajian dan percobaan yang dilakukan untuk menentukan sifat dasar atau prinsip apa yang dikaji.[14] Sedang menurut Conant dalam Science and Common Sense, sains adalah rangkaian konsep dan rencana-rencan konseptual yang bertalian satu dengan lainnya dan telah berkembang sebagai hasil dari percobaan dan pengamatan dan berfaedah untuk percobaan dan pengamatan lebih jauh.[15]
Berdasarkan pengertian itu, berarti telah terjadi pergeseran makna dari sekedar pengetahuan menjadi pengetahuan yang sistematis berdasarkan observasi inderawi.[16] Selanjutnya sains dipakai untuk menunjukkan pengetahuan tentang alam yang kuantitatif dan obyektif, dimana secara formal sesuatu disebut sains bila memenuhi tiga karakteristik sebagai berikut:
a. Bila dapat dipakai untuk menunjukkan beberapa jenis ilmu, seperti fisika, kimia, astronomi, geologi, biologi, atau psikologi. Matematika/logika disebut sains abstrak, sedang ilmu tumbuhan disebut sains emperis.
b.  Bila dapat dipakai untuk sekelompok pengetahuan yang sistematik yang mencakup hipotesa, teori, hukum-hukum yang telah dibentuk oleh ahli sains selama bertahun-tahun.
c.  Jika dapat digunakan untuk menunjukkan suatu metode memperoleh pengetahuan yang obyektif dan dapat dibuktikan kebenarannya, sehingga melalui istilah ini, sains sinonim dengan metode ilmiah.[17]
2.    Pendekatan Epistimologis
Secara epistemis, agama ternyata sulit didefinisikan, karena agama tidak bisa dibedakan dengan psikopatologi, juga tidak bisa dibedakan dari pendekatan lainnya dalam menghadapi ultimate concern. Sebab, orang ateis, penganut Islam maupun pemeluk kebatinan, semua menjawab masalah eksistensial ini.[18] Karena itu, cara terbaik untuk melakukan konseptualisasi agama adalah dengan menggabungkan ke seluruh aspek dan pendekatan agama tersebut. Mengutip pendapat Paloutzian, konseptualisasi agama didasarkan pada analisis personal–sosial dan fungsi-substansi, sehingga pada tataran individu, secara fungsional agama merupakan apa saja yang mampu memenuhi tujuan keagamaan individu, seperti memberikan makna, mengurangi rasa bersalah, memberikan bimbingan moral atau membantu menghadapai maut, sedang dalam tataran substansial agama dipandang sebagai kepercayaan individu yang bersifat khusus.
Dengan kata lain, agama merupakan kesadaran personal akan adanya yang sakral, transenden dan Ilahi.[19] Sementara itu, dalam tataran sosial, secara fungsional agama berupa apa saja yang menjalankan fungsi agama di masyarakat dan berjalannya kelompok dalam kelompok agama, sedang secara substansial merupakan perumusan ajaran agama secara resmi; atau berupa consensus kelompok tentang kepercayaan dan praktek, sikap di hadapan publik yang diambil gereja, sinagog, mazhab atau suatu sekte.[20]
3.    Pendekatan Aksiologis
Cabang filsafat yang membahas tentang teori nilai adalah aksiologis, sehingga perspektif aksiologis ini berupaya melihat nilai agama dan sains yang berbeda. Agama menurut pandangan Kertanegara mampu memberikan penjelasan secara rinci tentang berbagai hal yang tidak dapat dijangkau oleh akal manusia, sedemikian rupa agama juga memberikan makna yang lebih tinggi dan saling melengkapi terhadap pandangan-pandangan saintiffik dan filosofis.[21] Peacocke dalam bukunya Theology for a Scientific Age, melalui perspektif critical realism, berpandangan bahwa tujuan sains adalah untuk melukiskan realita, namun pelukisan tersebut mengizinkan adanya perubahan secara bertahap di dalam penerimaan kebenaran teori-teori ilmiah. Dengan bahasa lain sains berusaha menggambarkan realitas ini dengan rendah hati, karena harus selalu siap menerima kritikan serta direvisi oleh teori lain yang lebih maju dan berkembang.[22]
Lebih lanjut, secara gamblang Percesepe dan Honer Hunt menyebut aksiologi sains modern ditegakkan atas dua asumsi aksiologis, yaitu relativisme etis dan hedonisme etis. Relativisme etis berpandangan bahwa tidak ada prinsip-prinsip yang absah secara universal, karena setiap prinsip moral hanya absah secara relatif dengan pilihan cultural atau individual,[23] sedang hedonisme etis berpandangan bahwa kita selalu berusaha untuk mencari kesenangan kita sendiri dan kebajikan tertinggi bagi kita adalah kesenangan yang paling tinggi dengan derita yang paling sedikit.[24]
C.  Relasi Agama dan Sains
Sumber utama tulisan yang berusaha mendeskripsikan model relasi agama dan sains ini adalah Ian G. Barbour. Ia membahas tentang relasi sains dan agama dalam bukunya, Juru Bicara Tuhan antara Sains dan Agama (terj) dari judul asli When Science Meets Relegion: Enemies, Strangers, or Partuers?, bahwa perpaduan antara sains dan agama merupakan salah satu tipologi. Barbour, mengusulkan empat hubungan yaitu konflik (conflict), perpisahan (independence), dialog - perbincangan (dialogue), dan integrasi-perpaduan (integration).[25]
1.    Model Konflik
Model ini digunakan oleh tiga tokoh utama, yaitu Barbour, Haught dan Drees. Model ini berpendirian bahwa agama dan sains adalah dua hal yang tidak sekedar berbeda tapi sepenuhnya bertentangan. Karena itu, seseorang dalam waktu bersamaan tidak mungkin dapat mendukung teori sains dan memegang keyakinan agama, karena agama tidak bisa membuktikan kepercayaan dan pandangannya secara jelas (straight forword), sedang sains mampu. Sebagaimana halnya agama mempercayai Tuhan tidak perlu menunjukkan bukti kongkrit keberadaannya, sebaliknya sains manuntut pembuktian semua hipotesis dan teori dengan kenyataan. Keduanya dianut oleh kelompok biblical literalism, dan kelompok scientific materialism.
Para pendukung model ini berasumsi bahwa metode ilmiah merupakan satu-satunya sumber pengetahuan yang dapat dipercaya dan dipaham. Pada akhirnya, penganut paham ini cenderung memaksakan otoritas sains ke bidang-bidang di luar sains. Sedangkan agama, bagi kalangan saintis barat dianggap subyektif, tertutup dan sangat sulit berubah. Keyakinan terhadap agama juga tidak dapat diterima karena bukanlah data publik yang dapat diuji dengan percobaan dan kriteria sebagaimana halnya sains. Agama tidak lebih dari cerita-cerita mitologi dan legenda sehingga tidak ada kaitannya sama sekali dengan sains.[26]
Barbour menanggapi hal ini dengan argumen bahwa mereka keliru apabila melanggengkan dilema tentang keharusan memilih antara sains dan agama. Kepercayaan agama menawarkan kerangka makna yang lebih luas dalam kehidupan. Sedangkan sains tidak dapat mengungkap rentang yang luas dari pengalaman manusia atau mengartikulasikan kemungkinan-kemungkinan bagi tranformasi hidup manusia sebagaimana yang dipersaksikan oleh agama.

2.    Model Independen.
Model ini berpendirian bahwa agama dan sains memiliki persoalan, wilayah dan metode yang berbeda, dan masing-masing memiliki kebenarannya sendiri sehingga tidak perlu ada hubungan, kerjasama atau konflik antara keduanya. Keduanya harus dipisahkan (compartmentalized) untuk bekerja dalam wilayahnya masing-masing. Argumentasi model ini diantaranya dikemukakan oleh Langdan Gilhey, bahwa sains berusaha menjelaskan data obyektif, umum, dan berulang-ulang, sementara agama berbicara tentang masalah eksistensi tatanan dan keindahan dunia dan pengalaman seseorang seperti pengampunan, makna, kepercayaan, keselamatan dan lain sebagainya. Tujuan model ini adalah untuk menghindari konflik antara keduanya dan sebagai konsekuensi munculnya ilmu pengetahuan baru (new knowledge) seperti penjelasan biologis atas organism organ.
Tidak semua saintis memilih sikap konflik dalam menghadapi sains dan agama. Ada sebagian yang menganut independensi, dengan memisahkan sains dan agama dalam dua wilayah yang berbeda. Masing-masing mengakui keabsahan eksisitensi atas yang lain antara sains dan agama. Baik agama maupun sains dianggap mempunyai kebenaran sendiri-sendiri yang terpisah satu sama lain, sehingga bisa hidup berdampingan dengan damai. Pemisahan wilayah ini dapat berdasarkan masalah yang dikaji, domain yang dirujuk, dan metode yang digunakan. Mereka berpandangan bahwa sains berhubungan dengan fakta, dan agama mencakup nilai-nilai. Dua domain yang terpisah ini kemudian ditinjau dengan perbedaan bahasa dan fungsi masing-masing. Analisis bahasa menekankan bahwa bahasa ilmiah berfungsi untuk melalukan prediksi dan kontrol. Sains hanya mengeksplorasi masalah terbatas pada fenemona alam, tidak untuk melaksanakan fungsi selain itu. Sedangkan bahasa agama berfungsi memberikan seperangkat pedoman, menawarkan jalan hidup dan mengarahkan pengalaman religius personal dengan praktek ritual dan tradisi keagamaan.
Bagi kaum agamawan yang menganut pandangan independensi ini, menganggap bahwa Tuhanlah yang merupakan sumber-sumber nilai, baik alam nyata maupun gaib. Hanya agama yang dapat mengetahuinya melalui keimanan. Sedangkan sains hanya berhubungan dengan alam nyata saja. Walaupun interpretasi ini sedikit berbeda dengan kaum ilmuwan, akan tetapi pandangan independensi ini tetap menjamin kedamaian antara sains dan agama.
Barbour mencermati bahwa pandangan ini sama-sama mempertahankan karakter unik dari sains dan agama. Namun demikian, manusia tidak boleh merasa puas dengan pandangan bahwa sains dan agama sebagai dua domain yang tidak koheren. Bila manusia menghayati kehidupan sebagai satu kesatuan yang utuh dari berbagai aspeknya yang berbeda, dan meskipun dari aspek-aspek itu terbentuk berbagai disiplin yang berbeda pula, tentunya manusia harus berusaha menginterpretasikan ragam hal itu dalam pandangan yang lebih dialektis dan komplementer.

3.    Model Dialog.

Model ini bermaksud mencari persamaan atau perbandingan secara metodis dan konseptual antara agama dan sains, sehingga ditemukan persamaan dan perbedaan antara keduanya. Upaya ini dilakukan dengan cara mencari konsep dalam agama yang analog, serupa atau sebanding dengan konsep dalam sains atau sebaliknya. Suatu model yang berbeda dengan model kedua yang menekankan perbedaan ansich. Menurut Barbour, kesamaan antara keduanya bisa terjadi dalam dua hal, kesamaan metodologis dan kesamaan konsep. Kesamaan metodologis terjadi, misalnya, dalam hal sains tidak sepenuhnya obyektif sebagaimana agama tidak sepenuhnya subyektif. Secara metodologis, tidak ada perbedaan yang absolut antara agama dan sains, karena data ilmiah sebagai dasar sains yang dianggap sebagai wujud obyektifitas, sebenarnya juga melibatkan unsur-unsur subyektifitas. Lebih dari itu, subyektifitas sains terjadi pada asumsi teoritis yang digunakan dalam proses seleksi, penafsiran data dan pelaporan. Barbour bahkan menambahkan bahwa persamaan metodologis ini terletak pada prinsip hubungan antara teori dan pengalaman.[27]
Dalam kaitan ini, Barbour memberikan contoh masalah yang didialogkan ini dengan digunakannya model-model konseptual dan analogi-analogi ketika menjelaskan hal-hal yang tidak bisa diamati secara langsung. Dialog juga bisa dilakukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang ilmu pengetahuan yang mencapai tapal batas. Seperti: mengapa alam semesta ini ada dalam keteraturan yang dapat dimengerti? dan sebagainya. Ilmuwan dan teolog dapat menjadi mitra dialog dalam menjelaskan fenomena tersebut dengan tetap menghormati integritas masing-masing.
Dalam menghubungkan agama dan sains, pandangan ini dapat diwakili oleh pendapat Albert Einstein, yang mengatakan bahwa “Religion without science is blind : science without religion is lame“ (Tanpa sains, agama menjadi buta, dan tanpa agama, sains menjadi lumpuh). Demikian pula pendapat David Tracy, seorang teolog Katolik yang menyatakan adanya dimensi religius dalam sains bahwa intelijibilitas dunia memerlukan landasan rasional tertinggi yang bersumber dalam teks-teks keagamaan klasik dan struktur pengalaman manusiawi.[28]
Penganut pandangan dialog ini berpendapat bahwa sains dan agama tidaklah sesubyektif yang dikira. Antara sains dan agama memiliki kesejajaran karakteristik yaitu koherensi, kekomprehensifan dan kemanfaatan. Begitu juga kesejajaran metodologis yang banyak diangkat oleh beberapa penulis termasuk penggunaan kriteria konsistensi dan kongruensi dengan pengalaman. Seperti pendapat filosof Holmes Rolston yang menyatakan bahwa keyakinan dan keagamaan menafsirkan dan menyatakan pengalaman, sebagaimana teori ilmiah menafsirkan dan mengaitkan data percobaan. Beberapa penulis juga melakukan eksplorasi terhadap kesejajaran konseptual antara sains dan agama, disamping kesejajaran metodologis. Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kesejajaran konseptual maupun metodologis menawarkan kemungkinan interaksi antara sains dan agama secara dialogis dengan tetap mempertahankan integritas masing-masing.

4.    Model Integrasi
Alternatif lain hubungan antara agama dan sains yang dipandang paling ideal adalah model integrasi. Model ini berusaha mencari titik temu pada masalah-masalah yang dianggap bertentangan antara keduanya. Pandangan ini melahirkan hubungan yang lebih bersahabat daripada pendekatan dialog dengan mencari titik temu di antara sains dan agama. Sains dan doktrin-doktrin keagamaan, sama-sama dianggap valid dan menjadi sumber koheren dalam pandangan dunia. Bahkan pemahaman tentang dunia yang diperoleh melalui sains diharapkan dapat memperkaya pemahaman keagamaan bagi manusia yang beriman.
Armahedi Mahzar mencermati pandangan ini, bahwa dalam hubungan integratif memberikan wawasan yang lebih besar mencakup sains dan agama sehingga dapat bekerja sama secara aktif. Bahkan sains dapat meningkatkan keyakinan umat beragama dengan memberi bukti ilmiah atas wahyu atau pengalaman mistis. Sebagai contohnya adalah Maurice Bucaille yang melukiskan tentang kesejajaran deskripsi ilmiah modern tentang alam dengan deskripsi Al Qur’an tentang hal yang sama. Kesejajaran inilah yang dianggap memberikan dukungan obyektif ilmiah pada pengalaman subyektif keagamaan. Pengakuan keabsahan klaim sains maupun agama ini atas dasar kesamaan keduanya dalam memberikan pengetahuan atau deskripsi tentang alam.[29]
Pemahaman yang diperoleh melalui sains sebagai salah satu sumber pengetahuan, menyatakan keharmonisan koordinasi penciptaan sebagai desain cerdas Ilahi. Seperti halnya ketika memperhatikan bagian-bagian tubuh manusia dengan strukturnya yang tersusun secara kompleks dan terkoordinasi untuk tujuan tertentu. Meskipun Darwin melawan pandangan itu dalam teori evolusi yang mengangggap bahwa koordinasi dan detail-detail struktur organisme itu terbentuk karena seleksi alam dan variasi acak dalam proses adaptasi, namun dia sendiri mengakui argumen desain Ilahi, akan tetapi dalam anggapan sebagai penentu dari hukum-hukum proses evolusi itu yang membuka kemungkinan variasi detail organisme tersebut, bukan dalam anggapan Tuhan sebagai perancang sentral desain organisme.
Ada beberapa pendekatan yang digunakan dalam hubungan integrasi ini. Pendekatan pertama, berangkat dari data ilmiah yang menawarkan bukti konsklusif bagi keyakinan agama, untuk memperoleh kesepakatan dan kesadaran akan eksistensi Tuhan. Pendekatan kedua, yaitu dengan menelaah ulang doktrin-doktrin agama dalam relevansinya dengan teori-teori ilmiah, atau dengan kata lain, keyakinan agama diuji dengan kriteria tertentu dan dirumuskan ulang sesuai dengan penemuan sains terkini. Lalu pemikiran sains keagamaan ditafsirkan dengan filasafat proses dalam kerangka konseptual yang sama. Demikian Barbour menjelaskan tentang hubungan integrasi ini.[30]
Dari empat pandangan tipologi di atas, Barbour lebih berpihak pada dua pandangan terakhir, dan khususnya integration. Lebih khusus lagi, integrasi Barbour adalah integrasi teologis. Teori-teori ilmiah mutakhir dicari implikasi teologinya, lalu suatu teologi baru dibangun dengan memperhatikan teologi tradisonal sebagai salah satu sumbernya. Dengan demikian, integrasi ala Barbour, memiliki makna yang sangat spesifik, yang bertujuan menghasilkan suatu reformasi teologi dalam bentuk theology of nature. Barbour, membedakannya dari natural theory, yang tujuan utamanya untuk membuktikan kebenaran-kebenaran agama berdasarkan temuan-temuan ilmiah. Ketika berbicara tentang agama, perhatian Barbour nyaris terbatas pada teologi. Dan ketika berbicara tentang sains, perhatiannya terutama tertumpu pada ada yang disampaikan oleh isi teori-teori paling mutakhir dalam ilmu alam.[31]

D.  Upaya Pemahaman Integratif Dalam Perspektif Islam
Dalam pandangan Islam, sains dan agama memiliki dasar metafisik yang sama, dan tujuan pengetahuan yang diwahyukan maupun pengetahuan yang diupayakan adalah mengungkapkan ayat-ayat Tuhan dan sifat-sifat-Nya kepada umat manusia. Jadi, kita dapat mempertimbangkan kegiatan ilmiah sebagai bagian dari kewajiban agama, dengan catatan bahwa ia memiliki metodologi dan bahasanya sendiri.[32]
Para sarjana Muslim, menekankan bahwa motivasi di balik upaya pencarian ilmu-ilmu kealaman dan ilmu-ilmu matematis adalah upaya untuk mengetahui ayat-ayat Tuhan di alam semesta. Dalam pandangan mereka, tiap-tiap bidang ilmu ini menunjukkan satu dimensi ciptaan Tuhan, dan ilmu-ilmu tersebut memiliki kesatuan organis. Dengan demikian, para sarjana Muslim tidak memisahkan kajian tentang alam dari pandangan dunia mereka yang religius.[33]
Kita meyakini bahwa inkonsistensi yang dituduhkan kepada sains dan agama, karena diabaikannya keterbatasan sains oleh sebagaian ilmuwan, atau karena campur tangan yang tak semestinya dari para otoritas agamawan dalam persoalan saintifik. Menurut Golshani, hal ini juga terjadi di dunia Barat, beberapa orang ilmuwan terkenal memandang kegiatan ilmiah sebagai bagian dari pengalaman beragama. Charles Townes, pemenang hadia Nobel di bidang fisika, mengatakan bahwa saya sendiri tidak membedakan antara sains dan agama, tetapi memandang ”penjelajahan” alam semesta sebagai bagian dari pengalaman religius.[34]
Al-Qur’an, memperingatkan umat manusia bahwa kajian tentang alam hanya dapat membawa manusia dari penciptaan kepada Sang Pencipta, jika manusia memiliki modal iman kepada Tuhan, firman Allah: “Katakanlah, Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman” (QS. Yunus (10), ayat 101).[35]
Dengan dasar ini, maka jika seorang ilmuwan mendekati alam dengan iman kepada Tuhan, imannya akan diperkuat oleh kegiatan dan temuan-temuan ilmiahnya. Jika tidak demikian, maka kajian tentang alam tidak dengan sendirinya akan membawanya kepada Tuhan. Maka, Mehdi Golshani, mengatakan kegiatan ilmiah yang selalu disertai dengan praanggapan-praanggapan metafisik dari si ilmuwan meskipun dia mungkin tidak menyadarinya. Jadi, kejadian kealaman hanya dapat membawa orang kepada Tuhan, jika kerangka kerja metafisiknya bersesuaian.[36]
Di lain pihak, keyakinan religius dapat memberikan motivasi yang baik bagi kerja ilmiah. Maka menurut Golshani, inilah motivasi utama di balik kerja para ilmuwan besar pada masa keemasan peradaban Islam. Al-Biruni, ilmuan Muslim termasyhur, mengatakan bahwa penglihatan mengaitkan apa yang kita lihat dengan tanda-tanda kebijaksanaan Ilahi dalam penciptaan dan menyimpulkan adanya Sang Pencipta.[37] Levy, menjelaskan pandangan ilmuan Muslim itu dengan cara yang anggun. Terlepas dari sejumlah kecil penyelidikan yang diilhami oleh gagasan-gagasan filsafat Yunani, tetapi ilmuwan-ilmuwan Muslim yang terlibat dalam pencarian sains melakukan hal itu, untuk menemukan dalam keajaiban-keajaiban alam dan tanda-tanda atau bukti-bukti kebesaran Tuhan.[38] Dengan demikian, menurut Golshani, keyakinan agama dapat memberikan motivasi yang baik bagi kerja ilmiah. Kemudian efek lain yang dapat ditimbulkan agama terhadap sains adalah di wilayah penerapan sains. Untuk itu, agama dapat berfungsi untuk mengorientasikan sains pada arah penguatan kapasitas-kapasitas spritual manusia dan dalam mencegah penggunaan sains bagi tujuan-tujuan yang bersifat negatif.
Kata Golshani, kalaupun ada yang terkait dengan “Islamisasi”, maka itu berarti upaya memberikan makna keagamaan seperti itu pada sains. Maka kerja ilmiah dapat dilakukan dan dikembangkan dalam konteks keagamaan (teistik) maupun non keagamaan.[39] Golshani, dapat dikatakan merupakan pendatang baru dalam wacana mutakhir Islam dan sains. Nama-nama yang sering muncul dalam pembicaraan Islamisasi adalah Syed M. Naquib al-Attas, Seyyed Hossein Nasr, Isma’il al-Faruqi, dan Ziauddin Sardar. Al-Attas, dengan gagasan awalnya menyebut sebagai “dewesternisasi ilmu”, Isma’il al-Faruqi berbicara tentang “Islamisasi Ilmu”, sedangkan Sardar berbicara tentang penciptaan suatu “sains Islam kontemporer”. Kesemuanya bergerak terutama pada tingkat epistemologi dan sedikit metafisika, kecuali al-Attas, yang lebih masuk amat dalam ke wilayah metafisika.[40]
Dalam spektrum pandangan mengenai Islam dan sains, sebuah posisi lain ditempati oleh pemikir besar Muslim lain, yakni Fazlur Rahman, yang tak menyepakati gagasan “Islamisasi Ilmu”. Pandangan Rahman didasari oleh keyakinan bahwa ilmu, kurang-lebih, bebas nilai. Yang menjadi persoalan lebih besar adalah mampunya agamawan menyajikan suatu sistem etika yang dapat menjawab persoalan-persoalan baru yang diakibatkan kemajuan ilmiah. Tak sulit mencarikan mitra bagi Rahman dalam agama-agama lain, yang mencermati bahwa isu utama sains dan agama adalah menyangkut etika yang mampu menanggapi dengan cukup cepat dan baik isu-isu baru.[41]

E.  Impilkasi Pemahaman Integratif Sains dan Agama Dalam Konteks Pendidikan Islam
Pendidikan agama sebagai satu disiplin ilmu yang diajarkan di sekolah-sekolah selama ini dipengaruhi oleh pandangan dualisme pendidikan yang bersifat dikotomik. Implikasinya segala sesuatu hanya dilihat dari dua sisi yang berlawanan. Pendidikan agama dihadapkan dengan pendidikan non-agama atau pendidikan umum. Implikasi lebih jauh pendidikan agama Islam mengalami penyempitan makna yang hanya mengurus sekitar “kehidupan ukhrawi” yang dianggap terpisah dari “kehidupan duniawi”.
Dari sini, kemudian tercipta wacana bahwa Pendidikan Agama Islam hanya mengajarkan persoalan ritual dan spiritual, sedangkan kehidupan ekonomi, politik, ilmu pengetahuan, teknologi, dan seterusnya dianggap sebagai urusan duniawi, bukan garapan pendidikan pendidikan agama. Dari sini pula muncul istilah “pendidikan agama” dan “pendidikan umum”, atau “ilmu agama” dan “ilmu umum”, dan seterusnya.
 Pada tingkat kelembagaan pun muncul lembaga pendidikan agama berbentuk madrasah dengan ilmu tradisional (Islam) mulai dari tingkat ibtidaiyah, hingga perguruan tinggi agama (PTA) yang dalam penilaian umum dianggap kurang berkualitas, dan lembaga pendidikan umum berbentuk sekolah mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi umum (PTU) melalui pengajaran ilmu-ilmu sekuler modern (umum), dinilai oleh umum lebih berkualitas, dan banyak diminati.
Dualisme pendidikan yang bersifat dikhotomik antara pendidikan agama yang menghasilkan “ilmu agama” dan pendidikan umum yang menghasilkan “ilmu umum”, merupakan warisan pendidikan imperialis Belanda, menjadi penyebab utama kerancuan dan kesenjangan pendidikan di Indonesia dengan segala akibat yang ditimbulkannya. Inilah salah satu sebab utama yang membuat bangsa Indonesia yang mengklaim diri bangsa Muslim terbesar dunia, mengalami kemunduran di level apapun. Karenanya perlu dibenahi dengan pola integratif-interkonektif antar bidang studi. Pendidikan agama perlu terintegrasi dan interkoneksi dengan disiplin ilmu lain sehingga terjadi keselarasan antara pandangan agama dengan temuan-temuan obyektif ilmu pengetahuan dan teknologi yang bersifat umum, tidak paradoks antara kesadaran agama dan ilmu pengetahuan umum. Dengan demikian usaha menjadikan nilai-nilai agama menjadi dasar bagi perkembangan sains atau ilmu pengetahuan pada umumnya, seperti yang dicita-citakan oleh tujuan pendidikan nasional dapat terjangkau. Di samping itu pendidikan sains akan lebih memperkuat eksistensi dan posisi pendidikan agama.
Hampir setiap sekolah di Indonesia mengenal isitilah “Integrasi IMTAQ dan IPTEK”, dan menjadi visi-misi lembaganya. Sebagian besar guru mata pelajaran non-pendidikan agama telah mendapatkan pelatihan tentang pengintegrasian nilai-nilai IMTAQ ke dalam setiap mata pelajaran yang menjadi kewenangan profesinya (IPTEK), walau belum diimbangi pelatihan pengintegrasian wawasan IPTEK bagi pengajar agama. Sekalipun hasil pelatihan tersebut belum ada data komprehensif di lapangan, namun integrasi-interkoneksi antar disiplin ilmu telah menjadi trend dalam atmosfer pendidikan nasional.
Pengintegrasian, atau ada pula yang menyebut lebih tepat penginterkoneksian antara nilai IMTAQ dan IPTEK tidaklah mudah karena menyangkut realitas sejarah yang panjang dan epistimologi ilmu yang kompleks. Hingga kini masih kuat anggapan dalam masyarakat luas bahwa “agama” dan “ilmu” adalah dua entitas yang tidak bisa dipertemukan. Keduanya mempunyai wilayah sendiri-sendiri, terpisah antara satu dengan lainnya, baik dari segi objek formal-material, metode penelitian, kriteria kebenaran, peran yang dimainkan oleh ilmuan maupun status teori masing-masing, bahkan ke institusi penyelenggaranya. Dengan lain ungkapan, ilmu tidak mempedulikan agama dan agama tidak mempedulikan ilmu. Begitulah gambaran praktek pendidikan dan aktivitas keilmuan di tanah air dengan berbagai dampak negatif yang ditimbulkan dan dirasakan oleh masyarakat luas.
Sebagian pemikir tidak sepakat dengan kategorisasi ilmu agama dan ilmu umum, sebab istilah umum adalah lawan dari kata khusus. Sedangkan agama, khsusunya Islam tidak benar dikategorikan khusus, karena lingkup ajarannya begitu luas membahas berbagai segi kehidupan (termasuk alam semesta). Jika keduanya dipandang sebagai ilmu, maka agama adalah ilmu yang bersumber pada wahyu Tuhan, sedang ilmu umum berasal dari manusia. Kedua jenis ilmu yang berasal dari sumber yang berbeda itu harus dikaji secara bersama-sama secara simultan.
Walaupun pembagian pendidikan agama menghasilkan ilmu agama dan pendidikan umum menghasilkan ilmu umum sah-sah saja bagi yang menghendaki demikian, khususnya dalam tradisi Barat agar ilmu apapun termasuk ilmu sosial harus objektif, tidak terpengaruh oleh tradisi, ideologi, agama maupun golongan, (dan memang benar harus demikian), namun bagi bangsa Indonesia yang terkenal religius sejak zaman dulu, merupakan kontra produktif dalam hidup, dan mengandung bahaya. Pendidikan semestinya mampu mengangkat harkat - martabat kehidupan manusia dan bangsa secara utuh, bukan sebaliknya menjadi pemicu ketimpangan dan benturan di antara sesama bangsa sendiri karena penguasaan ilmu yang tidak komprehensif. Standar pribadi seorang Warga Negara Indonesia (WNI) adalah ia benar-benar mengetahui dan taat dengan ajaran agamanya masing-masing, dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus. Memahami agama dengan benar dan memiliki sains dengan benar merupakan suatu perintah yang diajarkan oleh Tuhan. Karenanya, agama dan ilmu bersumber dari sumber yang sama yaitu Dzat Yang Maha Mencipta, sehingga agama dan ilmu (sains), tidak terpisah dan dipertentangkan. Bahkan kebenaran sains adalah fakta dan data dari kebenaran agama yang telah diterangkan dalam teks-teks kitab suci-Nya. Karena itu, dalam praksis pendidikan, terutama pendidikan Islam, keduanya perlu memperoleh perhatian secara seimbang dan tidak ada alasan untuk mengunggulkan salah satu di antara keduanya.


F.   Kesimpulan
Dialektika agama dan sains telah berlangsung sejak lama dan terus berlanjut hingga saat ini. Sebagian masyarakat menganggap bahwa agama dan sains adalah dua entitas yang tidak dapat dipertemukan. Masing-masing memiliki wilayah sendiri-sendiri secara terpisah, baik dari segi objek, metode penelitian, kriteria kebenaran dan peran yang dimainkan oleh ilmuwan. Pertarungan antara agama dan sains seolah-olah tak pernah berhenti sepanjang sejarah perkembangan keduanya. Di satu pihak, kaum skeptis ilmiah menuduh bahwa agama hanya bergantung pada asumsi-asumsi apriori atau hanya didasarkan pada keyakinan dan bertumpu pada imajinasi liar, sementara para scientist senantiasa berdasarkan fakta secara empiris. Di pihak lain, para agamawan (teolog) mengklaim dan menyebut dirinya sebagai kaum yang berhak berbicara semua hal tentang kebenaran.
Agama dan sains, merupakan dua entitas penting dalam kehidupan umat manusia. Pertentangan antara keduanya tak perlu terjadi jika kita mau belajar mempertemukan ide-ide spiritualitas (agama) dengan sains yang sebenarnya sudah berlangsung lama. Ian G. Barbour menanggapi keliru apabila melanggengkan dilema tentang keharusan memilih antara sains dan agama. Pertentangan itu terjadi disebabkan oleh cara pandang yang keliru terhadap hakikat keduanya. Sains dan agama mempengaruhi manusia dengan kemuliaan Sang Pencipta dan mempengaruhi perhatian manusia secara langsung pada kemegahan alam fisik ciptaan-Nya. Keduanya tidak saling bertolak belakang, karena keduanya merupakan ungkapan kebenaran.
Dalam pandangan Islam, sains dan agama memiliki dasar metafisik yang sama, dan tujuan pengetahuan yang diwahyukan maupun pengetahuan yang diupayakan adalah mengungkapkan ayat-ayat Tuhan dan sifat-sifat-Nya kepada umat manusia. Kegiatan ilmiah adalah sebagai bagian dari kewajiban agama, dengan catatan bahwa ia memiliki metodologi dan bahasanya sendiri. Uupaya pencarian ilmu-ilmu kealaman dan ilmu-ilmu matematis adalah upaya untuk engetahui ayat-ayat Tuhan di alam semesta. Tiap-tiap bidang ilmu ini menunjukkan satu dimensi ciptaan Tuhan, dan ilmu-ilmu tersebut memiliki kesatuan organis. Dengan demikian, para sarjana Muslim tidak memisahkan kajian tentang alam dari pandangan dunia mereka yang religius.
Dalam konteks pendidikan, adanya dikotomi ilmu agama dan ilmu umum, yang menimbulkan dikotomi pendidikan, yaitu: pendidikan agama dan pendidikan  umum, sekolah agama dan sekolah umum, seperti yang telah berlangsung sejak lama di bumi Nusantara ini. Pola-pola pendidikan ini yang menyebabkan terpuruknya bangsa Indosnesia, kususnya umat Islam karena tertinggal jauh dari bangsa-bangsa lain dalam bidang sains dan teknologi. Karenanya perlu dibenahi dengan pola integratif-interkonektif antar bidang studi, pendidikan agama perlu terintegrasi dan interkoneksi dengan disiplin ilmu lain sehingga terjadi keselarasan antara pandangan agama dengan temuan-temuan obyektif ilmu pengetahuan dan teknologi yang bersifat umum, tidak paradoks antara kesadaran agama dan ilmu pengetahuan umum. Dengan demikian usaha menjadikan nilai-nilai agama menjadi dasar bagi perkembangan sains atau ilmu pengetahuan pada umumnya, seperti yang dicita-citakan oleh tujuan pendidikan nasional dapat tercapai.








DAFTAR PUSTAKA 

Al-Biruni, , al-Jamahir fi al-Jawahir, (Teheran: Syirkat al-Nasyr al-Ilm wa al-Tsaqafah,tt).
Al-Qur’an, surat Yunus (10), terjemahan, ayat 101.
Abdullah, M. Amin, ”Etika Tauhidik Sebagai Dasar Kesatuan Epistemologi Keilmuan Umum dan Agama (Dari Paradigma Positivistik-Sekularistik ke Arah Teoantroposentrik-Integralistik)”, dalam M.Amin Abdullah, dkk., Integrasi Sains Islam Mempertemukan Epistemologi Islam dan Sains (Yogyakarta: Pilar Relegia dan SUKA Press, 2004).
Bagir, Zainal Abidin, Pengantar : Program Studi Agama dan Lintas Budaya, (Program Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada, 2004).
-------, Integrasi Ilmu dan Agama Interpretasi dan Aksi ( Bandung: Mizan, 2005).
Barbour, Ian G. dalam Andy Ghothenx El-Faraby, April 2008, diakses tanggal 10 Pebruari 2011.
-------, Issues in Science and Religion (Englewood Cliffs: N.J. Prentice Hall, 1966).
-------., When Science Meets Relegion: Enemies, Strangers, or Partuers?, terj. E.R. Muhammad, Juru Bicara Tuhan antara Sains dan Agama, (Bandung: Mizan, 2002).Budiyanto, “Huston Smith Jalan Spiritual-Marxian”, dalam Journal of Religion Issues, I:01, 2003.
Bunyamin, Asep, Saling Hormat Agama dan Sains, http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/ 2005/0105/14/ renungan_jumat.htm, diakses Kamis, 10 Pebruari 2011.
Conant, Science and Commonsense, (Massachusetts: Blackwell Publishers.,1951).
Djalaluddin, Rakhmat, Psikologi Agama: Sebuah Pengantar, (Bandung: Mizan, 2003).
Nugroho, Wahyu, “Teologi Kristen dalam Konteks Sains, Kajian Kritis atas Gagasan
Arthur Peacocke”, dalam Journal of Religion Issues, I:01, (2003).
Kertanegara, Mulyadhi, “Ketika Sains Bertemu Filsafat dan Agama”, dalam Journal of Religion Issues, I:01, 2003.
Haught, John F, Science and Religion: From Conflict to Conversation, (New York: Paulist Press, 1995).
Golshani, Mehdi, Issues in Islam and Science, Institute for Humanities and Cultural Studies (IHCS) dalam Ahsin Muhammad (Terj.), Melacak Jejak Tuhan dalam Sains Tafsir Islam atas Sains (Bandung: Mizan, 2004).
http://strategika.wordpress.com/2007/07/05/ diakses tanggal 10 Pebruari 2011.
Mahzar, Armahedi dalam Andi Ghothenx El-Faraby, Pebruari 2009, diakses tanggal 10 Pebruari 2011.
Rahman, Fazlur, Islam, Terjemahan Ahsin Muhammad (Bandung: Pustaka, 2000).
Shihab, M. Quraish, Wawasan al-Qur’an (Bandung: Mizan, 1996).
Titus, Harold H, Persoalan-Persoalan Filsafat, terj. HM. Rasjidi, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984).
Webster’s New World Dictionary of American Language, (Cleveland and New York: The World Publishing Company, 1962).
               


[1] . Zainal Abidin Bagir, Pengantar : Program Studi Agama dan Lintas Budaya, (Program Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada, 2004). Fazlur Rahman mengutip pandangan Muhammad Abduh yang juga didukung Sayyid Ahmad Khan, bahwa agama dan akal, walaupun dalam Islam bekerja sama, namun keduanya memiliki peranan dan level operasi yang berbeda. Baca Fazlur Rahman, Islam, Terjemahan Ahsin Muhammad (Bandung: Pustaka, 2000), hlm. 320.
[2] . M. Amin Abdullah, ”Etika Tauhidik Sebagai Dasar Kesatuan Epistemologi Keilmuan Umum dan Agama (Dari Paradigma Positivistik-Sekularistik ke Arah Teoantroposentrik-Integralistik)”, dalam M.Amin Abdullah, dkk., Integrasi Sains Islam Mempertemukan Epistemologi Islam dan Sains (Yogyakarta: Pilar Relegia dan SUKA Press, 2004), hlm. 3.
[3] . Asep Bunyamin, Saling Hormat Agama dan Sains, http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/ 2005/0105/14/ renungan_jumat.htm, diakses Kamis, 10 Pebruari 2011.
[4] . Mehdi Golshani, Issues in Islam and Science, Institute for Humanities and Cultural Studies (IHCS) dalam Ahsin Muhammad (Terj.), Melacak Jejak Tuhan dalam Sains Tafsir Islam atas Sains (Bandung: Mizan, 2004), hlm.xii.
[5] . http://strategika.wordpress.com/2007/07/05/ diakses tanggal 10 Pebruari 2011.
[6] . Wahyu Nugroho, “Teologi Kristen dalam Konteks Sains, Kajian Kritis atas Gagasan
Arthur Peacocke”, dalam Journal of Religion Issues, I:01, (2003), hlm. 25.
[7] . M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an (Bandung: Mizan, 1996), hlm. 53.
[8] . Asep Bunyamin, Saling Hormat Agama dan Sains, From: http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/ 2005/0105/14/renungan_jumat.htm, diakses Kamis, 10 Pebruari 2011
[9] . Ian G. Barbour dalam Andy Ghothenx El-Faraby, April 2008, diakses tanggal 10 Pebruari 2011.
[10]. Ibid.
[11]Rakhmat, Djalaluddin, Psikologi Agama: Sebuah Pengantar, (Bandung: Mizan, 2003), hlm. 19-20.
[12] . Ibid., hlm. 21.
[13] . Webster’s New World Dictionary of American Language, (Cleveland and New York: The World Publishing Company, 1962).
[14] . Mulyadhi Kertanegara, “Ketika Sains Bertemu Filsafat dan Agama”, dalam Journal of Religion Issues, I:01, 2003, hlm. 66.
[15] . Conant, Science and Commonsense, (Massachusetts: Blackwell Publishers.,1951), hlm. 21.
[16] . Mulyadhi, Ketika Sains, hlm. 66.
[17] . Harold H Titus, Persoalan-Persoalan Filsafat, terj. HM. Rasjidi, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), hlm. 260.
                [18] . Budiyanto, “Huston Smith Jalan Spiritual-Marxian”, dalam Journal of Religion Issues, I:01, 2003, hlm.129.
[19] . Rakhmat, Psikologi Agama, 42-43
[20] . Ibid.
[21] . Mulyadhi, Ketika Sains, hlm. 74.
[22]. Wahyu Nugroho, “Teologi Kristen dalam Konteks Sains, Kajian Kritis atas Gagasan Arthur Peacocke”, dalam Journal of Religion Issues, I:01, 2003, hlm. 25.
[23] . Ibid.
[24] . John F Haught, Science and Religion: From Conflict to Conversation, (New York: Paulist Press, 1995), hlm. 222.
[25] . Ian G. Barbour, When Science Meets Relegion: Enemies, Strangers, or Partuers?, terj. E.R. Muhammad, Juru Bicara Tuhan antara Sains dan Agama, (Bandung: Mizan, 2002), hlm. 44.
[26] . John F Haught, Science, hlm. 1
[27] . Ian G. Barbour, When Science, hlm. 26.
[28] . Ibid.
[29] . Armahedi Mahzar dalam Andi Ghothenx El-Faraby, Pebruari 2009, diakses tanggal 10 Pebruari 2011.
[30] . Ibid.
[31] . Zainal Abidin Bagis et al, Integrasi Ilmu dan Agama Interpretasi dan Aksi ( Bandung: Mizan, 2005), hlm.19.
[32] . Mehdi Golshani, Ahsin Muhammad (Terj.), Melacak Jejak, hlm. 8
[33] . Ibid., hlm. 3
[34] . Ibid. hlm. 8
[35] . Al-Qur’an, surat Yunus (10), terjemahan, ayat 101.
[36] . Mehdi Golshani, Ahsin Muhammad (Terj.), Melacak Jejak, hlm. 9.
[37] .Al-Biruni, , al-Jamahir fi al-Jawahir, (Teheran: Syirkat al-Nasyr al-Ilm wa al-Tsaqafah, 1374 H ) hlm.77.
[38] . Ibid. hlm. 9
[39]. Ibid.
[40]. Zainal Abidin Bagis et al, Integrasi Ilmu, hlm. 24.
[41] . Ibid. hlm. 24-25.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar